7 Puisi Terbaik Karya Jeffri Rian Hermawan

/1/ Mengaung




Ratap tangis bocah kampung
bocah kampung bocah malang
melihat serumpun bocah itu
tatapan mata mereka
menggambarkan, macan kampung
yang terkepung lingkaran kampung

harapan mereka, ingin mengaung, mengaung, mengaung
mengaung, mengayunkan sebuah sajak puisi
yang tak ada maknanya

mengaungkan di hadapan negeri ini
bahwa ada satu harapan dari hati mereka
tapi ngaungan itu, tak bisa diutarakan
karena mereka terkungkung dan terkepung
lingkarang setan kabut asap

harapan, harapan, harapan
tak ada harapan bagi bocah kampung

Martapura, 27 Juni 2014

/2/ Aku Bertanya



Sidah
aku makin ngerti keadaanmu
jujur
tiap malam juga aku merindukanmu
dan kau tahu
dipikiranku hanyalah dirimu Sidah

Sidah
kuanggap kau yang terbaik diantara wanita-wanita yang lain
kamulah sastu-satunya yang ternyata mengerti aku
maafkan aku yang selama ini sedikit melupakanmu

Sidah
cintaku kepadamu teramat dalam
kan ku usahakan menjadi yang terbaik untukmu
kan selalu menyinari hari-harimu
dan tak akan sedikit pun menyakiti perasaanmu

Sidah
seandainya kau nanti jadi kekasihku
aku mempunyai dua permintaan
yang pertama
jangan cintai aku seperti bintang
karena bintang hanya bersinar di malam hari
cintailah aku seperti sungai
yang mengalir untukmu selamanya
yang kedua
jangan cintai aku seperti bunga
yang berhenti mekar kala musim berganti
cintailah aku seperti udara
yang membuatku hidup selamanya
karena itu, aku bertanya
maukah kau mendjadi kekasihku

/3/ Aku Melihat



hutan segar di belakang gubuk-gubuk karton
gubuk karton tanpa jendela
bertuan kakek dan bocah
pepohonan yang menjulang tinggi
dengan batang-batang pohon besar
terpapar hijau nan indah di hadapanku

mataku menikmati hamparan luas hutan
beribu-ribu hektare pepohonan hijau yang indah
daun-daun berguguran
ditemani ranting-ranting pohon yang telah renta
disitu aku berteriak lepas
melepaskan kepenatan sampah kehidupan

semula nampak manis
kemudian menjadi pahit
karena tak berapa lama
aku duduk menikmati itu semua
badai turun abu abu kelabu warnanya
bukan badai hujan atau angin topan
bukan...
tetapi sekelompok orang licik
yang menebang pepohonan
untuk keuntungan pribadi
aku tahu itu

Satu persatu pohon tumbang
bukan karena benalu
tapi karena mereka yang licik otaknya
mereka membelah hutan
membelah basahnya
jenggot pepohonan

/4/ Inilah Sajakku



Matahari terbit disebelah timur
aku keluar pintu
melihat dua sahabat
pencopet dan preman
yang memegang keris keramat
berbekas cucuran-cucuran darah anak manusia

Aku melihat mereka berjalan lunglai
sehabis mabuk, dari mabuk dan judi
atau sehabis memangsa anak manusia
ya !
aku tahu itu

dan aku bertanya
adakah keadilan
jika pencopet dan preman
membunuh tanpa batasan
kemanakah norma agama
jika pertumpahan darah
di kampung jelas kelihatan
tetapi di abaikan tanpa kejujuran

di satu sisi !
mereka merasa telah dipecundangi dunia
karena mereka selalu dihantui oleh debu kemiskinan
mereka merasa hidup hanyalah sampah
dimana mereka tidak mempunyai rumah
atau setidaknya gubuk karton
Tidak....
mereka tidak mempunyai itu
mereka hanya gelandangan kakilima
yang dilihat dari kacamata koruptor
hanyalah tikus got
gigi mereka yang kuning
dengan baju compang camping
ditemani bau orok
dan kencing dari tubuh mereka
mereka merangkak mencari makan
menyusuri trotoar kota
keadaan yang memaksa mereka seperti ini
demi mendapatkan sesuap nasi
setelah mereka kenyang
di bawah kolong jembatan
mereka tertidur
khook khook khook....
sementara aggota polisi melihat
dan berdiri dengan gagahnya melangkahi mereka
woy gembel bangun !
jangan tidur di sini!
namun mereka tak kunjung bangun
karena disitulah
mereka menghembuskan nafas terakhir

Aku bertanya kepada cakrawalaku
kemanakah kami para penyair dan dewi kesenian
mengungkapkan?
jika kami hanya di pandang sebelah mata
oleh pemerintah negeri ini
kecuali dalam puisi ini

/5/ Puisi Terakhir Untukmu



Dinda, apa kabar denganmu
lama tak tahu tentangmu
dan kurasa engkau baik di sana
semua ini berjalan begitu saja
tanpa ada rekayasa
kusadari tak seharusnya seperti ini
Ya !
aku tak tahu harus menulis apa?
tapi rangkaian kata ini
ku toreh sebagai puisi
yang ceritakan engkau dan aku

Dinda semua berakhir sudah
dengan segala rasa yang telah
terlanjur tertuang
nikmat cinta yang telah kita rasakan
kini semua telah menjadi kenangan

Dinda bila harus kisah cinta ini berakhir
semoga berakhir sebagai satu jalan
yang terbaik untuk kita berdua
karena kini kusadari
kau tercipta bukan lagi untukku

ku akui aku yang memulai segalanya
biarlah semua jadi kenangan
dan mungkin
pada akhirnya kan terkikis waktu

Dinda, ada satu paparan dariku
jika kau ingin mencari cinta yang pasti
Yo monggo
boten nopo-nopo
yang jelas, yang tak seperti aku
yang jauh dari harapanmu

Terimakasih kau telah mencintai aku

/6/ Membongkar Semangat Perpisahan



dari awal aku berpikir
zaman hitam dan merah
sampah kehidupan
terasa cepat berlalu
aku tak tahu mengapa

Begitu pula dengan perpisahan hari ini
tiga tahun kita menuntut ilmu
berjalan cepat tak peduli
tetapi kita telah lalui
hitam dan putih kenangan di sekolah
dari bangun telat
hingga sering terlambat
dan akhirnya kena setrap pak guru
dan hari ini adalah milik kita
aku berdiri di sini sebagai orang miskin
yang bijaksana

Dunia hari ini menyaksikan kita
di hari perpisahan ini
bukanlah akhir dari segalanya
karena ada satu hakikat
kita harus tetap semangat
menjalani edannya roda kehidupan

edannya, edannya, edannya

Jika kelak nanti
kita telah di pecundangi dunia
kita harus sabar, ikhlas
dan penuh keyakinan

Namun, maafkan aku
Aku tak bisa memberikan apa-apa
buat kalian
tapi setidaknya,
aku hanya bisa memberikan
tulisan-tulisan terindahku
yang pernah warnai dunia
puisi terindahku hanya untuk kalian

Banjarbaru, 10 Mei 2014

/7/ Sajak Adindaku



Terikat dalam hubungan cinta
di dalam hatiku, di dalam lubuk hatiku
yang paling dalam....
Aku mencintai seorang wanita
Seorang wanita, yang kusayang dan kucinta

Ujian-ujian di dalam cinta memang sering terjadi
dan itu wajar
tetapi jika berbicara masalah hati
Aku tak bisa berbohonga
tak bisa berdusta,
dan tidak bisa mengingkarinya.

Pukul delapan belas, kosong-kosong
Waktu Indonesia Barat
Aku melihat cakrawalaku, seperti menjabarkan sesuatu
tapi, aku tak tahu, sesuatu itu apa?

Saat memandang indah cakrawalaku
terselip dalam lamunanku
Aku seperti di hipnotis oleh cakrawalaku sendiri
Saat terselip itu,
dalam pikiranku tersirat, wajah adindaku
Masyaallah....
aku kesengsem pada cantiknya dirimu
dirimu, wahai adindaku....

Mengingat kamu adindaku
adalah mengingat kewajibanku sehari-hari.
Hai adindaku....
Apakah kamu ingat?
Aku memeluk kamu di atas perahu
ketika perutmu sakit
dan aku tenangkan kamu
dengan candaan-candaan yang mesra

Ingatkah?
Waktu itu aku berkata
Aku sangat mencintaimu
dan aku berpesan padamu
Jangan dengarkan kata-kata mereka
yang tak menginginkan kita bersatu

Dinda....
kan ku ungkap, semua rasa lewat puisi ini
Semoga kau mengerti, betapa tulus cintaku,
Percayalah,
Sukmaku,
Janji suci dari hati.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel