Cerpen Singkat Sungai Martapura 1998

Sungai Martapura 1998

Karya Jeffri Rian Hermawan


Ketika kincir senja mengoyak kesunyian kota, tiga taksi kuning obrok, tanpa penumpang dengan asap knalpot tebal hitam menggumpal di udara, trotoar jalan porakporanda dihantam dua truk yang kecelakaan subuh tadi.


Aku yang duduk di bangku reot di depan rumahku sambil menikmati secangkir kopi hitam dan setengah bilah rokok cerutu sisa sore kemarin, menatap sendu keadaan kotaku senja ini, sungguh sunyi, biasanya ramai sekali jalan ini, entah kenapa? cahaya merah pada waktu senja membuat perasaan jadi sedu sedan seperti ini, didukung dengan beberapa telepon umum di jalanan yang sudah usang, apalagi dengan beberapa kutang dan softex tergantung menghiasi telepon umum itu, herannya aku kenapa kotaku hari ini? bagaikan kota hancur setelah kerusuhan reformasi.

Senja ini, aku diluluhlantakkan oleh usangnya kotaku yang terbuang dari keramaian, aku lihat kalender tepat di belakangku hari ini tanggal 20 Mei 1990 astagaaaaaaaaa, aku lupa kalender ini hanya sebagai tirai dinding kayu yang berlubang di rumahku, lalu aku berjalan kedepan rumah hanya untuk melihat, tanggal berapa hari ini? dan kulihat kalender laminating yang di paku di batang pohon beringin lapuk nan layu depan rumahku, hari ini tanggal 20 Mei 1998. Kotaku Banjarmasin.

Rumahku tepat di belakang sungai Martapura yang membentang sepanjang 80KM, kau tahu, sungai Martapura adalah sungai terpanjang di Kalimantan Selatan, bermuara di Kota Banjarmasin dan hulunya berada di Kota Martapura.

Namun kini, tahun 1998 sungai Martapura, giginya kuning, mulutnya bau, akibat sisa kacang atom dan moto buangan pabrik yang dibuang oleh sederetan tetanggaku.


Memang goblok, ingin kusambangi mereka untuk mengedukasikan agar sama-sama menjaga rahim sungai Martapura biar tidak infeksi,  tapi aku sadar, aku hanyalah manusia yang di pandang paling rendah oleh tetanggaku yang lain, jadi omonganku mana mungkin di dengar oleh tetanggaku.

Mau bagaimana lagi, saat itu aku hanya bisa geram sendiri tanpa bisa berbuat apa-apa, ketika sederetan tetanggaku menganggap sungai adalah tempat sampah yang terbaik.

Pemerintah? apa yang diharap dari pemerintah saat itu, mereka menutup mata perihal ini, paling menunggu banjir berdebur seperti ombak, baru mereka membuka matanya.

Masa bodoh dengan sungai, tak bisa terus dan terus menerus duduk dalam palung hati masyarakat Banjarmasin, ketidaktahuan ini, harus segera disudahi, ketidaktahuan akan pentingnya menjaga kebersihan sungai untuk masyarakat Banjarmasin itu sendiri khususnya, dan masyarakat Kalimantan Selatan umumnya, agar mereka sadar sekaligus terlepas dari belenggu kebodohan yang selama ini memenjarakan sedu sedan di dada.

Pikirku, aku tidak bisa duduk diam, tanpa berbuat apa-apa juga, apa yang bisa kugelorakan. Aku harus bergerak memikiran cara lain, tanpa mereka tahu cara ini dari aku orang yang dipandang paling rendah oleh sederetan tetanggaku.

Aku tidak bisa hanya menikmati pagi dan senjaku dengan segelas kopi dan sebilah rokok cerutu sepanjang hari, membiarkan aroma sungai di belakang rumahku membuncah bau tahi yang kian semerbak. Kalau tidak berbuat apa-apa, itu sama saja aku masa bodoh.

Malam itu, sembari melinting tembakau dengan ditemani segelas kopi hitam dan beberapa buah kurma, aku berpikir, bagaimana kalau kubentangkan sebuah puisi di beberapa pinggiran sungai dekat deretan rumah tetanggaku yang goblok itu.

Memonya adalah ku ukir sebuah puisi di atas triplek yang lebar, berkaki kayu ulin, dengan cat kayu murah, berharap dengan gubahan puisi yang aku bentangkan, dapat menyadarkan tetanggaku akan pentingnya menjaga kebersihan sungai agar tidak lagi membuang sampah sembarangan, sebab fatalnya akan mengakibatkan Banjir, apabila terus menerus tidak ada edukasi mengenai ini.

Lalu kuisilah tiap malamku, dengan membuat gubahan-gubahan puisi yang tepat berharap kesadaran itu menghantam hati mereka masing-masing, memang aku tak pandai dalam hal ini, namun hanya inilah satu-satunya cara yang bisa aku usahakan, daripada berdiam diri.

Hingga pada malam Minggu, 6 Desember 1998 selesailah sudah aku membuat puisi. Jika kau ingin tahu puisinya, aku bisa tuliskan.

Sebab Candumu

jangan goblok ibu Leli
jangan coret pelangi sungai kami
dengan sampah sisa kacang atom yang kau ukir,
kau bisa saja mengelak,
kenyataannya kini, gigi sungai kami kian kuning
mulut sungai kami semakin bau
gara-gara kau pecandu kegoblokan
bila ada otak yang dapat menggantikan kegoblokanmu
akan kami beli
agar tak terbentang segala kegoblokan dan penyesalanmu
saat banjir bandang mengoyak-ngoyak kerumunan kota,
berdebur seperti ombak
yang pada akhirnya
terlanjur membuat lamun sembilu
dan menarikan rinai air matamu sendiri

bukan apa-apa, sungai kami dapat membuktikan
bahwa mereka sanggup, yang paling dalam membunuhmu
namun sebelum itu terjadi,
kami tak akan biarkan
sungai kami menjadi sungai piatu
dan membentuk pusaran-pusaran sendu
sebab candumu

perihal ini
kami tak masa bodoh
sebab sungai, telah menjadi segalanya bagi kami

melalui gubahan puisi ini
kami ingin,
rahim sungai kami
tak lagi infeksi.

Banjarmasin, 6 Desember 1998

Banjarmasin, Senin 7 Desember 1998, ketika senja kuning menyinari sungai Martapura, aku telah selesai membentangkan puisi itu di pinggiran sungai, tepat di belakang rumah tetanggaku, aku bekerja sendiri.

Kendati demikian, dua bulan sudah puisi itu membentang tepat di belakang rumah tetanggaku, namun, mereka tak menggubris puisi itu, hingga sekarang tetap saja setiap hari mereka membuang sampah, di tempat sampah terbaik bagi mereka yaitu sungai Martapura.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel