9 Puisi Terbaik Karya Arsyad Indradi

Ingin tahu 9 puisi terbaik karya Arsyad Indradi?


Namun sebelumnya, siapa itu Arsyad Indradi?

Arsyad Indradi adalah salah satu sastrawan, penyair di Kalimantan Selatan.

Harum nama Arsyad Indradi sebagai penyair dan sastrawan sangatlah semerbak.

Terbukti beberapa anugerah yang pernah diterimanya, yaitu Seni Tari dari Majelis Bandaraya Melaka Bersejarah pada Pesta Gendang Nusantara XII Malaysia (2009), Seni Sastra dari Walikota
Banjarbaru (2004), Seni Sastra dari Gubernur Provinsi Kalsel (2010), Anugerah
Budaya dari Gubernur Provinsi Kalsel (2014), dan Anugerah Sastra dari Tifa
Nusantara (2015), dll.

Arsyad Indradi banyak menuliskan sajak-sajak puisi, karangan dan juga hikayat.

Tulisannya tersebar di berbagai media massa lokal dan nasional.

Oleh karena itu, kali ini kita akan memaparkan 9 Puisi Terbaik Karya Arsyad Indradi menurut jeffririanhermawan.com

/1/ Jalan Kehidupan



Jangan berhenti sebelum matahari terbenam
Langkah yang diperhitungkan itu adalah arah
Hakikat kehidupan adalah tujuan
Maka jalan mana yang mesti ditempuh

Sebab kaum bertakdir
Perjalanan zahir pikir yang fakir
Hatta usia pun kemana arahnya
Pada poros bumi yang berputar

Di atas sajadah diri membetulkan kiblat
Membetulkan hari-hari usia
Fana kembali kepada kefanaan

(Arsyad Indradi, 2017:101)

/2/ Kuda Mayangkara



Sangat perkasa kuda putih itu melompat ke atas menara
Di atas pelana lantang bersuara :
Arek arek jangan sampai padam api yang menyala di jiwamu
Api darah pahlawanmu yang tumpah menyala

Dari jembatan Wonokromo nampak kuda Mayangkara itu
Membuka lembaran sejarah
Tentara sekutu dan Belanda kembali ingin menjajah negeri ini
Hangus dibakar semangat api yang berkobar

Merenung jiwa di perjalanan zaman yang beribu perubahan
Tetapi kuda Mayangkara tetap tegar panas dan hujan siang dan malam
menerpa tubuhnya
Api tetap berkobar dalam jiwanya
Di sebuah kota yang megah bernama kota pahlawan

(Arsyad Indradi, 2013:104)

/3/ Kejayaan Tanah Melayu



Di bantaran Sungai Siak
Entah apa di pipimu mengalir air mata
Ketika kusenandungkan sebuah lagu kenangan
Putri Kaca Mayang mandi di air yang jernih mengaca
Dari rahimnyalah yang melahirkan sebuah kota yang elok

Terhapuslah duka lara di makam raja Siak
Membaca petuah yang di pahat di prasasti sejarah
Pusaka keramat tanah melayu yang tak pupus di arus zaman

Di museum Laksamana Raja Di Laut
Kau belajar membaca mantra kejayaan tanah melayu
Aku berkata : Anak negeri mesti melestarikan kejayaan itu

(Arsyad Indradi, 2017:106)

/4/ Kereta Api



Aku lah kereta api
Meniti rel tulang belulangku
Yang menghela sejumlah gerbong
Sarat dengan kenangan
Impian harapan dan angan-angan
Suka dan duka
Tangis dan air mata
Cinta dan rindu
Doa dan dosa

Gerbong adalah nasib dan takdir
Beratap langit berlantai bumi

Aku lah kereta api
Musafir usia
Menuju rumahmu, tuhan

(Arsyad Indradi, 2013:114-115)

/5/ Daun Jendela



Mentari senja
Lenyap pandangan mata
Hanya gulita

Membayangkan jendela ini tanpa berdaun jendela
Tak cukup kata-kata selain merenung
Masuk ke dalam jiwa
Ke dalam diri yang fana
Kamar kehidupan
Kamar kematian
Hidup kehilangan warna
Kehilangan makna

Kala merenung
Pekat depan jendela
Sonder berdaun

Membayangkan jendela ini tanpa berdaun jendela
Jendela hati
Membayangkan apakah dapat bercinta lagi
Kekasih :

Menggali cinta
Sampai ke batas fajar
Penghuni jiwa

(Arsyad Indradi, 2017:118-119)

/6/ Suatu Malam. Kutulis Hatiku



1.
Hanyalah Satu
Walau seribu nama
Jalan membentang

2.
Di mana bulan
Jatuh di sudut malam
Lentera wajah

3.
Di tirai malam
Melukis kunang-kunang
Sketsa semesta

4.
Jalan membentang
Lentera wajah jiwa
Semesta cinta

5.
Sketsa semesta
Adakah kau di sana
Lelawa terbang

(Arsyad Indradi, 2017:120-212)

/7/ Di Kota Tua



Saat ku tarik gorden jendela pagi itu
Sekuntum mawar tumbuh di kaca jendela
Hatiku jatuh di seraut wajah

Entah apa gerangan tadi malam
Aku gagal menafsir mimpi
Tubuhku jatuh di sebuah sungai
Hanyut dan tenggelam

Kuusap bias gerimis rabun di kaca
Satu per satu kelopaknya lepas
Luruh di mataku luruh
Dan tinggal ranting semata

Pagi itu kembali aku menafsir mimpi
Sambil kupunguti kelopak hatiku
Yang berserakan di ubin lantai :
Kau kah yang membangkitkan kenangan dan rindu

(Arsyad Indradi, 2017:123)

/8/ Dalam Sujudku



Kunyalakan api tasbih membakar jasadku hangus
Kalbuku lelatu meletup-letup zikir menyebut asmamu
Hu Allah
Malam tak lah lagi malam pun siang tak lagi siang
Hu Allah
Luluh jadi asap doa di tujuh lapis langit di tujuh lapis bumi
Hu Allah
Aku anak Adam yang tersesat menuju rumahmu
Hu Allah
Di pintu kun payakunmu ruhku mengetuk alifmu
Hu Allah

Allah
Maha benar segala firmanmu

(Arsyad Indradi, 2017:125)

/9/ Di Gunung Muria



Orang berjenggot tafakkur pada sebuah nisan
Semilir angin aroma kembang di malam hening
Masuk ke dalam altar kehidupan hakiki
Melepas segala yang fana

Di ketinggian jiwa
Melayang zikir batu tasbih
Puncak Gunung Muria
Bertabur ayat ayat bintang

Hu Allah aku bersimpuh
Aku sebesar debu tanah Gunung Muria
Di bawah bulan saat gerhana
Tak kuhapus air mata
Karena belum habis firmanmu kubaca
Batu nisan dimana alamatmu
Aku nanti akan keharibaanmu

(Arsyad Indradi, 2017:125-126)

Demikianlah, 9 Puisi Terbaik Karya Arsyad Indradi menurut jeffririanhermawan.com

Walau pun keseluruhan tulisan karya beliau semua terbaik.

Namun dipilihnya 9 puisi ini karena saat membacanya kita dibawa dalam intensitas perenungan kontemplasi yang sarat akan nilai-nilai kehidupan.

Baiklah berakhir sudah tulisan ini.

Semoga bermanfaat. Terimakasih.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel