10 Puisi tentang Lingkungan Alam Karya Agustina Thamrin

Ingin tahu 10 Puisi tentang Lingkungan Alam Karya Agustina Thamrin?

Namun sebelumnya, siapa itu Agustina Thamrin?


Agustina Thamrin adalah salah satu penyair wanita di Kalimantan Selatan.

Ya!

Agustina Thamrin merupakan salah satu penyair wanita yang menaruh perhatian lebih terhadap alam, khususnya di Kalimantan. Agustina Thamrin begitu mencintai alam.

Melalui puisinya, Agustina Thamrin menggelorakan kritiknya kepada kelompok-kelompok yang telah tega merusak rimbun keasrian alam di Kalimantan.

Singgungan kritik itu dimuat dalam kumpulan puisi pada bukunya yang berjudul Mantra Malam.


Nah, yang menarik dari buku Mantra Malam adalah proses selesainya buku puisi ini.

Selesainya buku ini setelah ia melakukan penelitian/riset selama dua tahun dengan menyaksikan langsung babak belurnya alam yang terjadi di Kalimantan demi mengedepankan keindahan karya sebuah puisi.

Untuk itu disini jeffririanhermawan.com akan memaparkan 10 Puisi tentang Lingkungan Alam Karya Agustina Thamrin yang disudur dalam bukunya yang berjudul Mantra Malam tersebut.


/1/ Puisi Rimba Gugat



Betapa lahapnya api melahap hutanku
Burung-burung belingsatan, entah kemana. Peradaban
Membakar mukaku, menginjak injak ulu hati ngilu

Bumi menggugat pada pucuk pucuk huma terbakar
Dendang anak-anak rimba menggelantung di
ranting pohon kerontang
Ketika tanah bersatu dengan api menjadikannya
lebur bersama jasad

Hutan,O, Borneoku, engkau yang gagah dan jantan
Kini layu, tertunduk, menyimpan segala duka

Pada batang ulin yang kokoh dan tegar
Aku berada di bawah pohon randu
Memunguti serakan dunia yang serakah. Durjana

O, biarkan aku menangkap isyarat kukang
saling dekap
Ia yang bersetia pada hutan hutan Borneo

Daun daun bercermin pada cahaya hidup, silih
Berganti. Siang dan malam
Kesetian yang tak pernah selesai

Apakah anak anak rimba harus meminum air dari
buah kelapa yang hangus?
Apakah air mata harus sampai berbuih, karena
mendidih?
Apakah kita selalu menguyah duka kemanusiaan
pada jejek jejak yang terbakar?

/2/ Puisi Di Tepi Hutan



Tepian hutan raya, angan meranggas
Matahari menghisap perlahan perlahan
Tanah retak gemeretak
Pohonan merentak-rentak
luluh lantak

Berterbangan mimpi di atas rawa rawa
Sungai sungai menari nari
Bagai garis pena gemulaian

Apakah namanya jika jejak kelahiran tiada
Permukaan tanah rasa gambut
Serakah ia hisap kehidupan

Kadangkalah payau
Ketumpulan mandau
Kilatan galau
Kutancapkan bendera putih
Tepat di batok kepalaku
Aku menari-nari bagai gila akal
Terus menari dan Menari

Kutitipkan sumpit tepat di pusar langit
Agar hujan ngocor
Agar rindu basah kuyup
Ke haribaan bumi tanah ibu segala ibu

/3/ Puisi Duka Alam Borneo



Asap berkambung
asap membubung
aku pun limbung

dari  mana mereka
kejumawaan tangan-tangan
keserakahan

pohon-pohon habis dibakar
hutan sirna
kemudian tanah hitam legam
bangkai-bangkai pohon mengerang erang
sepanjang masa

jiwaku merandang
mataku terasa hampa
dan tak mampu
berbuat apa-apa
menangisi hutanku


bilamanakah sampai
ketamakan ini terus berlangsung
sedang satwa masih butuhkan rumah
dan bumi rindukan keteduhan

: aku termangu
dalam pilu

/4/ Puisi Doa Di Hutan Sawit 



aku hanya bisa memandang langit
di antara sela samar pelepah sawit
dengan rasa pedat terhimpit
di batu tempatku duduk, di samping parit

danau, dari lemah teramat kelam
beri aku kedalaman air, selaksa napas
bagi ikan-ikan, dan segala kebaikan
 alurnya  tenang mengurai

di antara percintaan waktu dan matahari,
 kebasahan yang punah, mengering
terhisap serakah akar-akar sawit, juga
para pemangsa segala kepalsuan

suara-suara kera hilang angin
di tiap ranting pohon berangguk menjuntai
kusaksikan berat semak hilang daun
ninggalkan duka para luka merindu dupa

telah lahir dengan luka cemar
mengambang pestisida, racun dan residu,
juga ketakutan burung-burung
yang hinggap berbagi cemas

di mana lagi kupu-kupu memberikan kenangan indah
pada kuncup bunga, pada makna hijau lidah
aku tenggelam di danau hamparan luas
 hutan sawit, pertarungan sengit antara kuasa

dengan aroma asam-busuk menyengat
doa yang teramat jauh kudengar, meski
suara hatiku sendirian terucap
pada hari-hari gagap, pada air tanah terhisap

/5/ Puisi Hutanku Rumah Asap



Hutanku Rumah asap
Aku berteduh di dalam kabut pepat

Kudengarkan dunia mengutuk
namun juga mabuk dalam hibuk

Asap asap menguasai jiwa sesap
Penguasa dalam gelap pikir

/6/ Puisi Menebang Pohon



Kukisahkan padamu, penebang pohon itu
Hidungnya gerompong, bagai mayat
Oh, tidak. Bagai mesin. Lihat
Gerakannya.
Begitu-begitu saja. Juga mimpinya.

Tapi ini manusia atau hantu
Kenapa matanya kuyu?

Aku tahu. Rasanya aku tahu
Ia sembunyikan hatinya
Di balik batu
Dan batu itu lenyap
Ditelan waktu.

Kau meratap-ratap
Batu di mana batu
sedang kepalaku
jadih tanah liat
Diguyur hujan dari tepi danau

Itu bukan mantra
Tapi mulut meracau karena
Angin tak lagi senja karena
Ingin begitu sepi

/7/ Puisi Fajar Lazarus



Fajar kabut mengabar asap kemerau berjelaga
Debu bergelantungan di mataku dan pekarangan
merah jambu
sungai sungai retak, gemeretak. Menyisiri kota
seribu tiang kaku mengedodanya
Di dalam sana, mangrove dan biota terkubur
Gairah hangat kabur-melebur

Kulihat kota bagai Lazarus berselimutan kemukus
Kian gelap dan rakus
Membungkus hutan. Lebih sering kudengar desau
daun daun berterbangan kering
gemerontang
Menusuk lambungku, menangisi asal usul lama
pernah tahu

Di beranda rumah kayu, aku menunggu perahu
dapatkan pepuyu

Jejak sungai telah disapu, antara pohon
pohon binjai yang Melayu
Nelayan Banjar mati tercumbu
Tertunduk layu kayu kaku

Ketika esok datang, masih kuatkah tanganku
masih kuatkah anganku
merentang
Mendekap sunyi bunyi kuriding, detak nadi menari
        jinjang

Gemulai
    Lembut
        Dalam
            Renungan

/8/ Puisi Kakiku Terjerat


Gurat-gurat wajah itu membuatku
Terjerat pada waktu yang lalu
Rindu yang membekas dengan jelas
Semangat yang masih membias

Di ruang tengah jantungmu
Kau ceritakan luka
Hutan-hutan yang terbakar
Adakah kau sadar, atau bersabar

Langit yang biru telah kelam
Awan yang hitam menjelaga kusam
Bibirmu pecah gemeretak
Apakah engkau menerima tak menolak?

Kakiku terjerat atas penerimaanmu
Kau ini  anak siapa, hingga hilang peduli
Atau rumah tak lagi penting
Karena langit di mana mana sama?


Pulanglah bukan untuk menjemputku
Bukan pula karena kakiku terjerat
Tapi rumah ialah tempat singgah
Ketika masih dipercaya dan niscaya

/9/ Puisi Matahari Jatuh Di Kaki Langit


Matahari Jatuh di kaki langit
Hatiku teriris melihatmu sengit
Para kuli-kuli peradaban
Bertiduran di hutan-hutan payau

Langit merah terbakar
Asap jelaga masih tersisa
Dari mesin-mesin berisik
Gergaji waktu tak peduli

Matahari jatuh di kaki langit
Hatiku rontok tak berdaya
Daunan gugur bertimbuhan
Aku menggelepar habis suara

/10/ Puisi Dalas Hangit


Kugigit lidah menyaksikan pucuk-pucuk huma
Yang terbakar
Gemerutuk rasa menyaksikan andaru
Yang mencabik-cabik hutan
Kegundahan puak puak dayak seperti matari
Mencorong panas

“Wahai puak puak borneo bersabarlah
Semoga mereka tak membabibuta merampas
Sel sel kehidupan kita...”

Kini balai-balai kita mulai bergoyang
Oleh gelagar mesin mesin dan tronton
Lahan-lahan leluhur kami dijungkirbalikan
Merogoh emas hitam dari bumiku

Wahai panglima burung,
Apakah ini isyarat bahwa musim
Tak lagi bersolek?
Hingga puak-puak kita
Hanya bisa menuai angin

Henti tarian api di negeri kami

Malam ini kami senandungkan musik kurinding
Nyanyian rimba di negeri garis bakar mentari
Di rumah jendela dunia
Kami minta petunjuk kepada pang lima Angsa

Haruskah menerbang kembali mandau leluhur
Menebas kezaliman kekuasaan yang menari-nari
Di depan mata kami

Padahal kami sedang menjaga paru paru dunia

O, hutan hutan borneo
Yang kini dikawal segenap puak-puak dayak,
Jangan ganggu kami,
Jangan usik rumah betang kami

Karena kami adalah hulubalang peradaban
Masa depan dunia

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel