MAKALAH TENTANG PEMAHAMAN BUDAYA MELALUI MAKNA NAMA ANTROPOLINGUISTIK

PEMAHAMAN BUDAYA MELALUI MAKNA NAMA

ANTROPOLINGUISTIK


Oleh:

 

 Jeffri Rian Hermawan

NPM 3061511128

 

                                                          



PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PERSATUAN GURU REPUBLIK INDONESIA
(STKIP PGRI)
BANJARMASIN
2017/2018

 

KATA PENGANTAR


Penyusun memanjatkan puji syukur kehadirat Allah swt. Berkat Rasulullah saw. Penyusun dapat menyelesaikan makalah tentang Pemahaman Budaya Melalui Makna Nama ini dengan baik. Tak lupa penyusun juga berterima kasih kepada dosen mata kuliah Antropolinguistik yang sudah memberikan tugas ini.

Penyusunan makalah ini merupakan kewajiban yang harus dilakukan bagi mahasiswa yang mengikuti mata kuliah Antropolinguistik. Akhir kata, penyusun mengucapkan terimakasih semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua.


                                                                                                                         Banjarbaru, 26 April 2018



                                                                                                                                          Penyusun


PENDAHULUAN


Kebudayaan adalah suatu hal yang tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan manusia. Dalam kehidupan manusia kebudayaan diciptakan untuk mempermudah manusia dalam menjalani kehidupannya. Kebudayaan tidak akan ada tanpa manusia, sebaliknya manusia tanpa kebudayaan tidak akan bisa bertahan dalam mengarungi kehidupan. Dari beberapa referensi dapat di ketahui bahwa kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks, yang di dalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat seseorang sebagai anggota masyarakat.

Bahasa sebagai alat komunikasi antara anggota masyarakat berupa simbol bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia dan bahasa adalah sistem komunikasi yang mempergunakan simbol-simbol vokal (bunyi ujaran) yang bersifat arbitrer. Adapun, bahasa dapat didefenisikan sebagai kode yang diterima secara sosial atau sistem konvensional untuk menyampaikan konsep melalui kegunaan simbol-simbol yang dikehendaki dan kombinasi simbol-simbol yang diatur oleh ketentuan. Atas dasar pengertian ini, dapat ditarik kesimpulan bahwa bahasa adalah ilmu yang mempelajari sistem, lambang, bunyi secara arbitrer.

Dengan demikian, bahasa dan kebudayaan merupakan hubungan yang subordinatif, dimana bahasa berada dibawah lingkup kebudayaan.  Artinya, bahasa dan budaya adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Kebudayaan  itu adalah satu sistem yang mengatur interaksi manusia di dalam masyarakat, maka kebahasaan adalah suatu sistem yang berfungsi sebagai sarana. Ini berarti, dengan menguasai bahasa kita dapat mempelajari budaya.


PEMBAHASAN


A. Pemahaman Budaya Melalui Makna Nama


Nama sebagai bagian dari bahasa yang digunakan sebagai penanda identitas kita juga memperlihatkan budaya pemilik nama itu. Yang paling menarik dalam penamaan ini, sama halnya dengan kebanggaan kita terhadap produk luar negeri, kita secara tidak sadar lebih bangga menggunakan nama dari bahasa lain daripada dari bahasa kita sendiri untuk menjadi identitas kita.

B. Makna Nama dalam Budaya Batak Toba


Dalam budaya Batak Toba, ada lima jenis nama yaitu:

 
  1. Pranama, yaitu julukan yang diberikan kepada si anak sebelum dia diberi nama sebenarnya. Anak laki-laki dengan sendirinya diberi nama si Unsok dan anak perempuan diberi nama si Butet. Kadang-kadang, pranama ini bisa terus digunakan sampai si anak berusia balita meskipun si anak sudah diberi nama terutama oleh orang yang tidak mengetahui nama si anak.
  2. Goar sihadakdanahon “nama sebenarnya/sejak lahir”, yaitu nama yang diberikan oleh orang tua kepada si anak sejak kecil seperti Bonar, Togi, dan Rumondang. Inilah yang disebut dengan proper name “nama pribadi”.
  3. Panggoaran “teknonim atau nama dari anak/cucu sulung”, yaitu nama tambahan yang diberikan masyarakat secara langsung kepada orang tua dengan memanggil nama anak atau cucu sulungnya.
  4. Goar-goar “nama julukan”, yaitu nama tambahan yang diberikan orang banyak kepada seseorang yang memiliki pekerjaan, keistimewaan, tabiat atau sifat tertentu. Sebenarnya, ada dua jenis nama ini yaitu nama julukan berdasarkan jabatan/gelar/profesi dan nama julukan berdasarkan sifat seseorang.
  5. Marga “nama keluarga/kerabat”, yaitu nama yang diberikan kepada seseorang dengan otomatis berdasarkan kekerabatan yang unilinear atau garis keturunan geneologis secara patrilineal dari satu nenek moyang.

Berdasarkan jenis nama tersebut, pemberian nama dalam masyarakat Batak Toba tidak terbatas hanya kepada seorang bayi yang baru lahir, tetapi dapat juga diberikan kepada orang dewasa. Jadi, apabila kita memperhatikan pemberian nama dalam budaya Batak Toba, kita dapat mencatat bahwa nama diberikan, setelah bayi lahir, setelah mempunyai anak, setelah mempunyai cucu, setelah memiliki pekerjaan, setelah masuk pada suatu Klan, dan setelah menikah.

Nama seseorang ada kalanya diubah karena alasan tertentu. Pertama, jika seorang anak sering sakit, ada mitos pada masyarakat Batak Toba bahwa nama itu tidak cocok disandang si anak, jiwa anak itu tidak menerima nama itu. Apabila nama yang dimilikinya sama dengan nama orang besar dahulu dalam masyarakat itu, dikatakan bahwa jiwa anak yang sering sakit itu tidak sanggup menerima nama itu. Oleh karena itu, namanya harus dirubah. Berikut ini contoh nama-nama berbahasa Batak Toba.

a. Pengharapan Futuratif

 

Nama
Arti
Makna Pengharapan
Basa
Murah hati
Semoga menjadi orang yang murah hati
Basar
Ramah
Semoga menjadi orang yang ramah
Bonar
Benar
Semoga menjadi orang yang benar



b. Pengharapan Situasional

 

Nama
Arti
Makna Pengharapan
Lamhot
semakin tetap
Keadaan mungkin semakin membaik dan semoga tetap demikian
Maruba
berubah 
Keadaan mungkin kurang sejahtera dan semoga keadaan berubah
Mangadu
melomba
Keadaan mungkin sudah tertinggal dan semoga kehidupan semakin  baik dengan kelahiran anak ini


c.    Kenangan

 

Nama
Arti
Makna Pengharapan
Merdeka
Merdeka
Kenangan bahwa seseorang lahir pada hari kemerdekaan
Adil
Adil
Kenangan bahwa seseorang lahir pada waktu terjadi peristiwa pengadilan
Monang
Menang
Kenangan bahwa seseorang lahir pada waktu orang tuanya menang dalam perkara atau yang lain

 

C. Makna Nama dalam Budaya Batak Pakpak-Dairi

Sama dengan makna nama dalam masyarakat Batak Toba, berdasarkan nama-nama yang diberikan atau yang biasa terjadi dalam masyarakat Batak Pakpak-Dairi, ada lima jenis nama yaitu:

  1. Pranama, yaitu julukan yang diberikan kepada si anak sebelum dia diberi nama sebenarnya. Anak laki-laki dengan sendirinya diberi nama Bursok dan anak perempuan diberi nama Betet. Pranama ini lebih lama melekat pada anak bungsu meskipun nama sebenarnya telah diberikan.
  2. Nama sebenarnya/sejak lahir, yaitu nama yang diberikan oleh orang tua kepada si anak sejak kecil seperti Sahmo, Maseh, Bernek, Sarko dan Dosra. Inilah yang disebut proper name “nama pribadi”. Nama ini lebih kekal daripada nama-nama lain dan terus digunakan bahkan sampai seseorang meninggal dunia. Oleh karena itu, nama sebenarnya inilah yang digunakan dalam daftar-daftar identitas seperti kartu penduduk dengan diikuti oleh nama keluarga atau marga.
  3. Teknonim atau nama dari anak/cucu sulung, yaitu nama tambahan yang diberikan masyarakat secara langsung kepada orang tua dengan memanggil nama anak atau cucu sulungnya.
  4. Nama julukan, yaitu nama tambahan yang diberikan orang banyak kepada seseorang yang memiliki pekerjaan, keistimewaan, tabiat atau sifat tertentu. Sebenarnya, ada dua jenis nama ini yaitu nama julukan berdasarkan jabatan/gelar/profesi dan nama julukan berdasarkan sifat seseorang. Nama julukan pertama hampir sama dengan “gelar kehormatan”, sedangkan nama julukan kedua sama dengan “nama sindiran”. Nama julukan kehormatan pada umumnya bermakna positif membanggakan dan benar adanya seperti panggilan untuk pendeta dan pejabat di pemerintahan. Hal ini hampir sama dengan bahasa Indonesia. Jumlah nama julukan kehormatan sangat terbatas karena dahulu orang mayoritas petani. Nama julukan sindiran biasanya mengandung makna yang negatif, mengejek, dan mungkin tidak benar adanya. Misalnya, nama Pa Suluh diberikan kepada seseorang karena dia bernama Senter dan nama Pun Tengam diberikan karena tangannya putih. Karena kebanyakan jenis nama ini mengandung makna negatif, ada kemungkinan seseorang diberi nama julukan tanpa sepengetahuan orang itu sehingga nama itu hanya disebut ketika yang dijuluki tidak mendengarnya seperti Marsungge “penyeleweng”.
  5. Marga “nama keluarga/kerabat”, yaitu nama yang diberikan kepada seseorang dengan otomatis berdasarkan kekerabatan yang unilinear atau garis keturunan geonologis secara patrilineal dari satu nenek moyang. Pada mulanya, marga ini berasal dari nama pribadi seseorang nenek moyang. Pada keturunannya kemudian menggunakan nama ini sebagai nama keluarga (marga) untuk menandakan bahwa mereka keturunan si nenek moyang itu. Misalnya, dahulu ada orang bernama Berutu, kemudian semua keturunannya menggunakan marga Berutu sebagai nama keluarganya untuk menunjukkan bahwa mereka keturunan nenek moyang mereka yang bernama Berutu. Marga ini selalu digunakan sebagai nama akhir atau ditempatkan diakhir nama misalnya, nama pribadi seseorang adalah Lister dan nama keluarganya Berutu, maka dia bernama lengkap Lister Berutu. Meskipun seseorang memiliki dua nama pribadi, nama keluarga tetap berada diakhir. Jenis nama inilah yang disebut dengan Sib name.

Berdasarkan jenis nama tersebut, pemberian nama dalam masyarakat Batak Pakpak-Dairi tidak terbatas hanya kepada seseorang bayi yang baru lahir, tetapi dapat juga diberikan kepada orang dewasa. Jadi, apabila kita memperhatikan pemberian nama dalam budaya Batak Pakpak-Dairi, kita dapat mencatat bahwa nama diberikan setelah bayi lahir, setelah mempunyai anak, setelah mempunyai cucu, setelah memiliki pekerjaan, dan setelah masuk pada suatu Klan.

a. Penggantian Nama

Pada masyarakat Batak Pakpak-Dairi, ada tradisi penggantian nama. Nama seseorang diubah karena alasan si anak sering sakit. Jika seorang anak sering sakit, ada mitos pada masyarakat Batak Pakpak-Dairi bahwa nama itu tidak cocok disandang, jiwa anak itu tidak menerima nama itu. Oleh karena itu, namanya harus diubah. Pada umumnya, pergantian nama itu dilakukan dengan upacara tertentu dengan harapan agar nasib si anak akan semakin baik atau supaya dia semakin sehat.

Upacara pergantian nama itu diadakan dengan melaksanakan nditak ginabur “tepung beras” atau tutuken nditak “menumbuk tepung beras”. Nditak ginabur adalah tepung beras yang ke dalamnya dimasukkan gula dan kadang-kadang kelapa, kemudian dikepal sehingga seperti kue pada hari penggantian nama itu, nditak ginabur dibagi-bagikan kepada setiap orang yang jumpa atau lewat sekaligus memberikan kepada mereka nama baru yang diberikan kepada si anak.

Dalam proses penggantian nama inilah terjadi pemberian nama yang bermakna “jelek” kerena ada kepercayaan bahwa jika si anak diberi nama yang bermakna “baik atau bagus”, si anak akan sakit. Inilah salah satu alasan sehingga ada nama-nama hewan dan tumbuhan dibuat nama orang di masyarakan Pakpak-Dairi, seperti Guraba ”Musang” dan Kimang “terong”.

Sebenarnya, pemberian nama yang bermakna “jelek” ini tidak hanya terbatas pada penggantian nama atau kepada si anak yang namanya sudah diganti, tetapi juga kepada si anak yang abang-abang/kakak-kakaknya meninggal.

Dalam hal ini, terjadilah apa yang dikatakan dalam falsafah tradisional tentang pemberian nama, “anak cantik dikatakan jelek” agar roh-roh halus tidak tertarik pada si anak karena ketika orang mengatakan “cantik”, katanya roh halus akan mendengarnya.

b. Makna Nama

Nama-nama Berbahasa Batak Pakpak-Dairi

1. Nama yang Bermakna Situasional

Nama
Arti
Makna
Abin
Halau/tarik
Orang tuanya dalam keadaan susah sehingga diharapkan kelahiran si anak dapat menarik/mengubah.
Abir
Sindir
Banyak sindiran pada orang tuanya pada waktu dia lahir.
Anggah
musin
Lahir pada waktu musim panen.

2. Nama yang Bermakna Pengharapan

Nama
Arti
Makna
Kusoh
Tanya
Semoga/diharapkan menjadi orang yang selalu bertanya.
Lobuan
Rapat yang banyak orang
Diharapkan menjadi orang yang dapat memimpin rapat.
Marko
Mari engkau
Semoga menjadi anak yang patuh pada orang tua.

3. Nama yang Bermakna Kenangan

Nama
Arti
Makna
Japang
Jepang
Lahir pada masa penjajahan Jepang.
Mungkur
Nama kampung
Si anak lahir di perantauan dengan harapan supaya ingat kampung halaman.
Senget
Peringatan
Peringatan karena setelah lahir, ibunya dibunuh.

 

PENUTUP


A. Simpulan

Nama sebagai bagian dari bahasa yang digunakan sebagai penanda identitas kita juga memperlihatkan budaya pemilik nama itu. Dalam budaya Batak Toba, ada lima jenis nama yaitu, Pranama, Goar sihadakdanahon, Panggoaran, Goar-goar “nama julukan”, Marga “nama keluarga/kerabat”. Berdasarkan jenis nama tersebut, pemberian nama dalam masyarakat Batak Toba tidak terbatas hanya kepada seorang bayi yang baru lahir, tetapi dapat juga diberikan kepada orang dewasa. Jadi, apabila kita memperhatikan pemberian nama dalam budaya Batak Toba, kita dapat mencatat bahwa nama diberikan, setelah bayi lahir, setelah mempunyai anak, setelah mempunyai cucu, setelah memiliki pekerjaan, setelah masuk pada suatu Klan, dan setelah menikah.

Adapun makna nama dalam masyarakat Batak Pakpak-Dairi, ada lima jenis nama juga yaitu, Pranama, Nama sebenarnya/sejak lahir, Teknonim, Nama julukan, dan Marga “nama keluarga/kerabat”. Berdasarkan jenis nama tersebut, pemberian nama dalam masyarakat Batak Pakpak-Dairi tidak terbatas hanya kepada seseorang bayi yang baru lahir, tetapi dapat juga diberikan kepada orang dewasa. Jadi, apabila kita memperhatikan pemberian nama dalam budaya Batak Pakpak-Dairi, kita dapat mencatat bahwa nama diberikan setelah bayi lahir, setelah mempunyai anak, setelah mempunyai cucu, setelah memiliki pekerjaan, dan setelah masuk pada suatu Klan.

DAFTAR PUSTAKA


Sibarani, Robert. 2004. Antropolinguistik. Medan: Penerbit Poda.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel