Kumpulan Puisi Terbaik Tentang Hutan dan Lingkungan Alam

Pengantar dari tulisan ini, sebelum menukik lebih lanjut pada Kumpulan Puisi Terbaik Tentang Lingkungan Alam. Saya jeffririanhermawan.com ingin mengucapkan terimakasih telah mampir dalam Blog terbaik ini.

Lebih lanjut, puisi ini dibuat berdasarkan kemirisan rasa yang terunyuh akibat orang-orang yang tega merusak keindahan lingkungan alam, tanah air bumi kita, ya bumi Indonesia.

Kejadian ini semua, berdasarkan hipotesis saya, karena uang.

Ya, ujung tombak yang tidak dapat dipungkiri lagi, kerusakan lingkungan alam dikarenakan ketakutan kebanyakan orang akan kemiskinan, sehingga mereka akan melakukan apa saja untuk mendapatkan uang, termasuk merusak keindahan alam negaranya sendiri.

Namun, saya sebagai penulis, hanya bisa mengeluarkan rasa terenyuh itu melalui gubahan puisi yang telah saya endapkan lebih dari satu tahun ini.

Semoga puisi ini dapat menjadi wawasan pandangan bagi anda yang tidak tahu fakta dibalik kerusakan semesta bangsa ini, pun semoga artikel ini dapat bermanfaat bagi semuanya, khususnya para perusak lingkungan, semoga sadar dengan banyaknya edukasi baik secara lisan maupun tulisan, salah satunya tulisan mengenai Kumpulan Puisi Terbaik Tentang Lingkungan Alam ini.

Berikut ini Kumpulan Puisi Terbaik Tentang Lingkungan Alam yang wajib anda baca agar anda mengetahui keadaan retorika hantaman alam semesta bangsa kita. Bangsa Indonesia.


/1/

Layu Sembilu


Rawa-rawa kini terbengkalai menjadi abu
Bening air ternoda darah biru
Ibu Leli malah tertawa
Dunia menghipnotis ibu Leli
Kepentingan komersial di atas segala-galanya

Alam semesta diluluhlantakkan oleh uang
Hutan porakporanda menjadi abu
Hahaha ibu Leli kembali tertawa
yang penting uang
Bekantan, monyet, ular, orang hutan, tidak peduli nasib mereka
dan kini orang hutan tinggal menjadi kenangan

Sementara di luar sana pemerintah asik menikmati gajihnya saja
Semestaku murka, banjir bandang mengoyak-ngoyak kerumunan kota
Apa kabar ibu Leli?
Apa kabar Indonesia?

/2/

Pelangi Hutan


Senyap luka hutan berlumur bara
Terbang abu terlanjur membuat lamun sembilu
Bukan rintik tapi deras hujan sembilu
Membuat pelangi hutan tidak terlihat menunjukkan cerianya
Mari kita ciptakan bumi hutan yang hijau selalu untuk masa depan
Kesadaran kita tuk merubahnya bersama
Berhentilah membakar kesejukan bumi
Hutan tak dapat terangi malam kita
tetapi hutan menentukan nafas kita
Tegaskan bahwa hutan anugrah terindah yang kita miliki
Baca Juga: Puisi Terbaik Terbaru 2019

/3/

Jerit Bumiku


Separuh sayap hijau bumi istanaku lenyap
Singgasana hijau bumiku larut
Manusia menarikan rinai air matanya sendiri
Berharap yang lain ciptakan bumi yang lebih indah
Hahaha membakar luka sendiri
tetapi berharap bayangan orang lain
sembuhkan luka bumi
Kesadaran kita tuk merubahnya bersama

Meratapi kisah bumiku
Senandung warna warni alamku layu
Begitulah yang kurasa!!


/4/

Damai Alam Semesta


Semestaku porakporanda oleh mereka
Mereka yang tak tahu tata krama alam semesta
Mereka adalah sembilu lingkungan alam
Mereka benar-benar menjadi kutukan semesta

Mereka licin, tidak terlihat, namun menghasilkan
Ya
Menghasilkan kerusakan
Membuat sedu sedan beningnya air sungai
dan sedu sedan mereka yang menjaga alam
Sembilulah alam semesta
Menangislah jika kau ingin menangis
Murkalah jika kau ingin murka
Sebab dengan murkamu,
Jalan mereka menyesal dan menyadari,
telah memutuskan tali persaudaraan dengan mu semestaku

dan untuk kita, bertaubatlah membuat kerusakan
Sampaikanlah kebenaran kepada mereka yang belum tersentuh hatinya
Agar tidak merusak indahanya embun pagi
Mari kita ciptakkan bumi yang hijau
Untuk masa depan anak cucu kita
Untuk dunia yang lebih indah

/5/

Dunia Untukmu


Dunia ini buruk
Kau tau?
Anugerah terindah dari dunia itu apa?
Keindahan semesta yang utuh
tidak layu seperti sekarang
Samudra atlantik saja yang masih utuh
Selebihnya bernoda darah biru
Sepeti air putih, keindahannya hambar
Tidak lagi berwarna,

Ambisi rutinitas untuk menjaga keindahan
dunia telah sirna
Di persimpangan lingkungan alam piatu
Terlihat jelas sembilu ambisi patah membisu
Terhempas semua cinta alam
Terhapus sudah cara manusia mencitai alam
Berubah kemurnian pelita alam
Mentari pun tahu semua sudah tak ada tujuan
Kini embun pagi tidak seramah dahulu

Sedangkan berikut ini adalah Kumpulan Puisi Terbaik Tentang Lingkungan Alam juga.

Namun, puisi ini diambil dalam buku puisi Manampi Mimpi Antalogi Pemenang Kisdah Puisi Naskah Drama Sayembara Menulis ASKS XIV Kandangan 2017.

/6/

Tangisan Sebatang Jukung


Kutelaah sungai-sungai
Yang mengalirkan arus masa silammu
Di sisi tebing, sebatang jukung lapuk meneteskan air mata
Menangisi hilangnya tonggak-tonggak pembatas tanah banua
Yang semakin digusur pencakar-pencakar langit yang jumawa

Di sepanjang aliran sungai yang sekarat
Jukung-jukung lapuk menunggu maut
Dihempas resah gelombang zaman
Di pasang surut arus peradaban

O, anak cucuku
Dengarkanlah tangisan sebatang jukung
Isaknya mencari-cari sungai yang ditimbun kota
Di dada manusia yang memperjual-belikan tanah leluhur kita!

/7/

Kasidah Hutan


Di ubun-ubun matahari
Begitu menyarak api di tebing-tebing lembah
Membakar pohon-pohon para dan rimbun ulin
Dan serombongan burung kehilangan sarang
Dalam sekejap pun hutan menjelma banir-banir arang

Di puncak bukit
Lengseran senja terbenam ke telaga sungai
Seperinduan burung hinggap di ranting pohon terakhir
Menatap hutan menjadi serpihan kelelatu
Sebagai isyarat sebuah kasidah selamat tinggal
Pada anak cucu di pedalaman

Sungguh, air mata adalah bahasa terakhir
Sebagai tanda perlawanan dan ketaksanggupan
Saat adat dan ulayat direbut
Dan seluruh hak sebagai manusia direnggut

/8/

Di Batas Akhir Tanah Banua


Tak seperti dahulukala
Saat rimba bermahkotakan kehijauan
Sungai-sungai tak sebening tubuh galuh-galuh yang mandi di lanting
Ataupun gugusan gunung-gunung masih bermegakan harapan

Tak juga bagi sediakala
Ketikan nafas penduduk belum disergap debu-debu emas hitam
Pohon-pohon karet masih sejajar berbaris di pinggir jalan setapak
Sebelum lahan-lahan sawit merebut setiap jengkal tanah banua

Padahal segalanya terlampau berlebihan
Namun hakikat manusia selalu kekurangan
Tak pernah cukup atas kecurangan dan kerusakan
Sampai di batas akhir ini tanah banua kehilangan arti

/9/

Senandung Tanah Banyu


Sekarang melagukan beribu harapan
Tak semudah dahulu, ketika banua masih asri berseri
Bertemakan nyanyian ampar-ampar pisang
Didenting panting yang bersenandung

Di lalu lalang kota
Yang semakin sesak dan tragis menggilas
Anak-anak banua kehilangan inti sari kehidupannya
Sebagai pewaris tunggal tanah banyu ini

Lelah anak cucu kita melepaskan beben-beban
Di lantai tanah yang menuliskan riwayat kelahiran
Tentang kesultanan banjar dan datuk-datuk yang berkuasa
Kini kejayaanmu telah ditikam sembilu peradaban

Di arusmu yang semakin sepi
Seribu sungaimu tinggal satu itupun terkikis
Sedangkan tanah banyumu yang luas
Tinggal patok-patok ulin yang tertindas!

/10/

Kalimantan di Mata Bekantan


Kali ini hujan tenang menari-nari dibulan maret
Mengiringi sebuah sebab yang kusibak dari buku tua yang bercerita duka
Potret elok tubuhmu terpampang dalam ingatan nenek moyangku
Pupus senja kian sirna berjeda hasrat perihal rindu akan kalimanatan

Perih rasanya melihat rambut lebatmu berkeramas api
Alismu bercadas debu, dahimu di tumbuhi gedung-gedung
Dan dadamu berkubang dikeruk tangan bermesin baja
Tak lagi terlihat kemakmuran anak cucu dalam rumah bubungan tinggi
Tak jua terdengar seruan bekantan di dahan-dahan hutan
Sayup dilindas cahaya kota dan pencakar-pencakar langit

Kalimantan di mata seekor bekantan
Tinggal langgam kejayaan dan kesuburan masalalu
Sungai-sungai tertuba keserakahan jumawa
Hutan-hutan tenggelam di air mata anak cucu

/11/

Jazirah Air Mata Sungai


Sungai di belakang rumah mengalir dari hulu air mata leluhur
Menuju hilir muara anak cucu yang kini mulai tak
memahaminya
Sebagai sejarah maupun warisan terakhir yang dititipkan nenek
datuk
Kepada intah dan buyut sebagai darah perjuangan dan
perlawanan

Sungai-sungai kian terjepit dan tersumbat pencakar-pencakar
peradaban
Kian kokoh menjulang dan berdiri tegap menantang keluasaan
lazuardi banua
Dalam sengau suara orang-orang yang kehilangan ladang dan
belukar harapan
Hanya dapat berpesan melalui gelonggongan kayu tebangan dan
jelaga arus sungai

Tentang tembang-tembang dan kearifan yang dahulu masih
santun terlantun
Mengiringi hentak mata tujuh menanam paung asa dan benih
harapan
Sampai kijik kaki memisah bulir padi dari batang dijunjung
menuju lumbung
Ketegaran mari kita seka air mata sungai yang menangis di
pangkuan borneo
Agar darah lukanya tak menderas berkepanjangan sampai pada
juriat

/12/

Sungai di Jantung Kota


Sungai di jantung kota
Melahirkan gedung-gedung
Jalan raya dan keribukan malam
Ketika kubaca wajahnya hanya kelam
Tentang orang-orang dari perkampungan

Sungai di jantung kota
Mulai menggelepar-gelepar
Melepas birahi keriuhan manusia
Sampai tak kutangkap lagi suara-suara
Yang setiap lima waktu bergema
Memanggil-manggil hati yang rawan
Memancangkan tiang-tiang iman

/13/

Riwayat Lanting


Pada irama sungai
Di pinggiran lebat ranting
Di kecipak alunan gelombang
Lanting-lanting pun bergoyang

Lanting bambu yang lapuk-rapuh
Dimakan rayap zaman dan keganasan waktu
Menelantarkannya menjadi peninggalan nenek moyang
Tergugus arus modernisasi yang semakin deras ganas
Antara himpitan sesak bangunan-bangunan pencakar langit
Menenggelamkan kestiaan leluhur
Untuk bertahan di tepian-tepian sungai

Lanting-lanting termangu hening
Di pinggiran sungai yang tak lagi bening
Yang dulu jadi maskot dan identitas banua ini
Kota berjuluk seribu sungai

Di atas lanting inilah dahulu
Ketika galuh dan utuh, diang dan atak
Bercebur mandi atau mencuci diri dari daki hidup
Di arus hulu sungai yang membawa kenangannya
Bersama jukung dan kelotok keambang muara barito

Setiap saat senja kuning luruh kesungai
Meninggalkan jejak-jejak riwayat lanting
Dalam kenangan anak cucu di tanah nini datu

/14/

Menyusur Jejak Kemarau


Sehimpunan kelelatu
Beterbangan serupa sayap-sayap bencana
Mengitari setiap ujung-ujung perkampungan
Lalu hinggap di dahan, larut di sungai hingga ke langit terik
Kemudian orang-orang dari pedalaman hulu
Membaca isyarat pertanda

Pada alur tanah lengkang
Pohon kehilangan daun
Sungai kehilangan air
Bukit hutan memperanakkan api
Berkobar seluas pandang mata kesaksian

Orang-orang pedalaman hulu
Menyusur jejak-jejak kemarau di dada leluhur
Membakar segala kekayaan nenek moyang
Menghanguskan tempat bernaung anak cucu
Dengan kemalangan dan kedalaman sumur hati
Kemarau disirami air mata naluri

/15/

Sungai Terakhir


Di sebatang jukung
Aku mengalir di arus renta sungai terakhir
Meratapi bantaran yang semakin rapuh
Bekantan bergayutan di pelapah nipah
Bersama siang yang berlumur peluh
Pada detak jantung sungai terakhir
Yang semakin berat mengalir
Melarutkan sampah yang milir
Dari jantung kota di hilir

Sesampai tepian dermaga
Kusaksikan keganasan beton-beton baja
Semakin mengakar di hamparan tubuh banua
Mengikis tanah huma, menenggelamkan lanting
Mengubur jejak jukung, deru kelotok dan pasar terapung
Merobohkan rumah bubungan tinggi dan balai adat
Bersama nasib orang-orang berdarah Banjar dan Dayak
Yang kian di anak-tirikan di Negri seribu sungai

Di dasar sungai terakhirmu
Yang mengaruskan usia senja
Menyimpan riwayat punggawa
Dan hikayat para raja kesultanan Banjar
Menjadi kenangan persinggahan kapal-kapal layar
Yang menawarkan perniagaan dagang nusantara

Nini datu di hulu banyu
Ingin anak cucunya terus teguh bersetia
Pada sungai terakhir di lubuk banua



Penutup


Sebagai penutup, marilah kita renungkan untuk lebih menaruh perhatian betapa pentingnya menjaga hutan bagi kelestarian alam.

Sebab masalah mengenai ketidakasrian alam ini adalah akibat penebangan hutan secara liar atau pembalakan hutan, polusi air dari limbah industri dan pertambangan, bukan merupakan masalah yang baru lagi.

Harus dibenahi sesegera mungkin karena masalah ini tidak luput dari peran pemerintah dan masyarakat itu sendiri, yang harus berdampingan demi menciptakan bumi yang selalu hijau.

Oleh karena itu, dari 15 puisi di atas, semoga dapat merefleksi kemirisan rasa yang memupuk harap agar ketidakasrian alam ini dapat ditanggulangi bersama-sama.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel