Cerpen Singkat Tentang Cinta Terbaik

“Salahnya Mencintai Sepenuh Hati”

Jeffri Rian Hermawan


Aku yakin, cinta yang besar yang diberikan sepenuhnya untuk orang yang dicintai itu pilihannya hanya ada dua, pertama bahaya dan kedua luka.

Bahaya, sebab cinta yang sepenuhnya kadang seperti hujan yang tak diinginkan, laksana pagi yang tak ditunggu dan dapat memenjarakan sedu sedan didada serta dapat meluluhlantakkan hari-harimu, itu bahaya.

Luka, kadang beberapa hal memang harus membuat kita terluka dan cinta yang sepenuhnya dapat menjadi jalan kerinduan yang tak bertuan dan dapat mengutukmu dengan sedih, ketika kamu lagi sayang-sayangnya kamu dihadapkan dengan kenyataan luka yaitu dimana pasangan kamu selingkuh. Kamu boleh tidak setuju, tapi aku adalah orang yang dihadapkan dengan kenyataan luka dalam akhir retorika cintaku.

Aku Jeffri. Jeffri Rian Hermawan. Jenis kelamin laki-laki. Lahir di Banjarmasin, tanggal 6 Desember 1996 dan sekarang sudah sembuh lebam di dadaku. Aku seorang mahasiswa bahasa dan sastra Indonesia di salah satu perguruan tinggi swasta di Banjarmasin.

Aku memang tidak pandai dalam menyusun sebuah kata dalam kalimat tentang hal ini, tapi aku coba beritahu lewat pesan cerita ini.

Suatu hari aku pernah diluluhlantakkan oleh seorang perempuan bernama Aulia. Hari-hariku kacau, makanku tidak teratur, kuliahku berantakkan, pikiranku dilubangi dengan air mata, maksudku aku tidak dapat berpikir baik, seperti terkubur dalam kesedihan waktu itu. Aku mengasihani diriku sendiri, sempat aku berpikir, “mengapa Aulia mengutukku dengan sedih”. Ada yang bilang kalau laki-laki menangis sebab patah hati itu adalah orang yang bodoh. Itu benar, aku sendiri menilai diriku bodoh. Tetapi kamu tidak bisa membohongi perasaanmu, aku sangat mencintai Aulia, aku menyayangi Aulia sepenuh hati. Jujur, hanya Aulia yang paling berwarna, aku tidak pernah sedekat dan sebahagia ini dengan yang lain dan aku tahu Aulia juga sangat mencintaiku. Aulia adalah seorang perempuan cantik nan manis, tubuhnya kurus, berkulit putih dilengkapi tahi lalat kecil di pipi sebelah kanan dekat ujung bibirnya yang tipis memerah.

Disini aku ingin langsung bilang, Aulia telah di jodohkan orang tuanya, tetapi Aulia tidak mencintai pilihan orang tuanya, dia memilihku sebab dia mencintaiku dan tidak sama sekali mencintai pilihan orang tuanya yaitu Boni, ia pun sangat menyayangi Aulia, cintanya juga besar dengan Aulia, aku tahu itu. Dan dia juga orang yang baik lagi alim, aku tidak sebaik dia ke Aulia. Aku tidak ada apa-apanya dibanding dia. Bahkan, ia melakukan hal terbaik sepanjang jalan melebihi segala usahaku, apa pun yang Aulia mau, ia memperjuangkan dengan hati. Dia benar-benar menyayangi Aulia. Begitu juga aku. Tetapi dalam hal ini, aku tidak pernah bertemu dengan Boni. Hanya saja, aku mengetahuinya tapi dia tidak.

Aulia bilang segala kebaikan yang diberikan Boni itu memang tulus, dia memang orang yang baik, tetapi Aulia mencintaiku tidak mencintai Boni, dan disini Aulia belum memutuskan pilihannya dan belum berbicara kepada orang tuanya. Hingga Aulia berjalan dengan ku dan si Boni. Dan akhirnya seiring berjalannya waktu, Aulia banyak berbohong denganku dan Boni. Kebohongan itu semua dilakukan Aulia atas dasar ketidaksiapannya, Aulia perlu waktu, Aulia menunggu waktu yang tepat untuk mengatakan keputusannya, ujarnya. Pantas saja ketika kami nonton di bioskop Duta Mall Banjarmasin, aku lihat ada yang berbeda di matanya, ada sebuah kesedihan, ada yang ia pikirkan, tidak menunjukkan kebahagiaan yang lepas ketika bersamaku, tapi aku tidak menanyakan hal itu, aku lebih memilih untuk diam.

Sebelum itu, aku ingin bilang, awalnya aku tidak mengetahui Aulia berjalan dengan keduanya. Jika saja aku mengetahui mungkin jalan ceritanya tidak seperti ini. Dan semua sudah terlanjur, aku sudah memberikan cinta yang sepenuhnya kepadanya, ketika aku lagi sayang-sayangnya aku dihadapkan dengan kenyataan luka bahwa Aulia selingkuh, iya dia selingkuh, aku mengatakannya selingkuh karena dia membagi cintanya dengan berjalan dengan Boni. Aku terlalu berharga untuk diduakan.

Aku kurang berpengalaman dalam hal cinta tetapi satu, kalau aku sudah sayang dengan perempuan, semuanya aku berikan, cinta, kesetiaan, kepercayaan, aku ingin membuat orang yang aku cintai bahagia dan terbukti aku mencintai Aulia berlebihan akhirnya rasa ingin memiliki sepenuhnya pun lebih tinggi, jadi wajar deh semua orang juga ingin pasangannya memberikan kadar yang sama.

Berhubung aku ketika itu menggebu-gebu menyayangi Aulia, kuberikan kepercayaanku yang sepenuhnya, Aulia membohongiku, aku percaya, karena terlalu banyak kebohongan Aulia yang ia tuai, sebab ketidaksiapannya, hingga semua kebohongan itu terbongkar dan itu membuat hubungan kami tidak sehat dan setelah mengetahui kebohongannya aku kurang percaya dengannnya, bahkan aku tidak percaya lagi dengannya, sebab kepercayaan yang sepenuhnya sudah diluluhlantakkan dengan tidak baik olehnya. Dan semenjak hari itu, aku jadi posesif  aku tidak dapat mengerti dan memahami kebohongannya.

Akhirnya, semestaku porakporanda oleh cinta, jiwa yang terluka, hati yang patah, perasaan baik yang hancur, pikiran yang keram, semua huru hara itu berkabung dalam sebuah kerumitan yang semu. Aku berpikir, aku harus tegas disini, aku dan Aulia perlu ruang sendiri untuk berpikir serius atas hubungan yang tidak sehat ini, malam itu aku berbicara dengan Aulia di taman Van Der Pijl.

"Aulia, ada apa dengan semua ini, mengapa kamu buat aku begini, kamu tahu aku menyayangi kamu sepenuh hati tetapi aku terlalu berharga untuk diduakan. Sekarang aku ingin kita tidak berhubungan dulu selama satu bulan. Sedu sedan ini tidak bisa mengiringi hubungan kita. Kita perlu ruang khusus untuk berpikir serius".

Jadi ?” Katanya.

Pahamilah halusnya perasaanku, aku disini belajar untuk tidak egois. Memang aku inginkan kamu, sangat menyayangi kamu, tak rela rasanya jika kamu dimiliki yang lain. Tetapi disisi lain, aku juga harus bijak, harus berbesar hati setelah melihat retorika semua ini. Aku tidak ingin hubungan kita berjalan dimana semesta tak merestui dan aku tidak mau kita berjalan dengan setengah dari perasaan kamu untuk orang lain artinya ketika kita bersama kebahagiaan kamu setengah, karena ada yang kamu pikirkan, yaitu Boni. Aku ingin kamu benar-benar lepas dari orang lain, jadi enak kita menjalani hubungan. Dan dalam satu bulan itu semua pilihan ada di kamu, pilih aku atau dia, jangan berjalan dengan keduanya”.

Aulia pun terdiam cukup lama dan air mata pun gugur membasahi pipinya. Dia hanya bisa menganggukkan kepalanya, habis itu, aku langsung berjalan meninggalkannya.

Satu bulan kemudian, waktu itu tanggal 19 Februari 2018 sorenya, ketika kincir senja kian sirna, di puncak gunung Tahura, tempat dimana aku ingin mendengar jawaban pilihan Aulia.

Aku dan Aulia ke puncak gunung sendiri-sendiri dan Aulia sampai terlebih dahulu di puncak gunung, kebetulan puncak gunung Tahura tidak jauh dari rumah kami.

Pikirku, aku ingin segera mendengar jawabannya, sebab aku lihat langit hendak berganti tirai, iya, maksudku langitnya mau gelap.

Di tengah-tengah kerinduan setelah selama sebulan kami yang saling mencintai tidak bertemu dan aku ingin memeluknya, entah kenapa, rasa rindu ini kuat sekali, cantik wajahnya, harumnya, kulit putihnya, tatapannya, mendorongku untuk ingin memeluknya, ketika kami berhadapan, tanpa izin aku memeluknya dan aku terkejut ia menerima pelukanku, ia juga memelukku erat sekali. Dan aku berbisik di telingannya.

Aku sangat merindukanmu, aku mencintaimu

Iya, aku juga”. Katanya.

Bagaimana? Kutanya langsung saja.

Apanya yang bagaimana?” Sambil menatapku, Aulia menanyakan maksud dari pertanyaanku.

Entah kenapa, aku langsung saja menanyakan siapa yang dia pilih aku atau Boni, seharusnya aku tidak menanyakan itu dulu, seharusnya aku lebih lama menikmati pelukan itu, sembari kucium harum rambutnya.

Lalu Aulia melepaskan pelukannya dan berjalan kedepan sambil memandang hamparan pegunungan. Tahu kah kamu? Pilihan Aulia adalah Boni, pilihan yang telah dijodohkan orang tuanya.

Aku pernah sakit tapi tak pernah sesakit ini, aku pernah mencintai, tapi tak pernah sedalam ini, kamu pasti tau setelah mendengar pilihan Aulia itu, bagaimana hancurnya hatiku, hatiku berdebur seperti ombak, sakit, ibarat luka, luka sayatan pisau dijari telunjukmu, lalu kau buka luka itu dan kau lihat dalam, masih segar darah mengalir, lalu ditaburi jeruk nipis, lada, garam dan bon cabe. Kamu rasa sakitnya? Aku menangis tanpa air mata.

Tetapi apa yang aku rasakan ini tidak akan ada artinya kalau hanya menjadi milikku sendiri, terkadang kita harus merelakan seseorang pergi, walaupun kita menginginkannya tetap disini.

Jadi, aku harus tetap tegak dan jangan menunjukkan bahasa tubuh kesedihan, mau bagaimana lagi itu adalah pilihannya setelah melalui proses berpikir yang panjang, aku tak ingin banyak bertanya, kenapa kamu memilihnya, tidak memilihku, baru saja aku mendengar kamu mencintaiku, ingatkah semua kata yang kamu ucapkan dulu, kamu berjanji untuk setia, sekarang kutanya kemana janji itu, kenapa, kenapa, aku tidak bertanya hal seperti itu, kedengarannya cukup dewasa aku menghadapi ini, tapi kamu sendiri tahu, dalamnya sakit yang aku rasa.

Aku tersenyum kepada Aulia. Aku mengangkat kepalaku dan melihat langit senja, tepat ketika cahaya merah pada waktu senja aku menarik dalam nafasku dan kukakatakan kepada Aulia.

Aulia, aku tau, aku bukanlah seseorang yang menarik untuk ditunggu dan bukan seseorang yang menyenangkan untuk dirindu”.

Itu adalah kalimat terakhir yang ku katakan dengan Aulia. Aulia tak akan pernah rasa, sakit hatiku, saat aku tahu Aulia dengannya tidak denganku. Aku genggam erat janji Aulia untuk selalu setia bersamaku, ternyata tak satu janji pun terbukti, mungkin untuk dilukai aku tidak terbiasa, disaat aku terluka Aulia tampak biasa dan untuk menyayangi Aulia dengan sepenuh hati, apakah aku harus menahan sesakit ini?


Gak lama dari itu, aku memberikan sebuah puisi karya Boy Candra kepadanya, yang sudah kusiapkan jika jawaban yang tidak diinginkan terjadi, dan benar semua itu terjadi. Jika kamu mau tau puisinya, aku bisa tuliskan.

Apalah artinya kalimat-kalimat sayang,
kalau akhirnya kau hilang. Pergi begitu
saja, padahal aku lagi rindu-rindunya.

Apalah artinya sehimpun janji, kalau
tak ada yang bisa kau tepati. Kau
melupakan ucapan-ucapanmu sendiri,
seolah semua yang disampaikan
tak pernah diserusi.

Boy Candra

Terkadang kita nggak butuh waktu satu menit untuk jatuh cinta tetapi butuh waktu selamanya untuk move on. Aku sadar sekarang, aku mengerti apa yang salah denganku yang salah adalah sejak awal kulihat tatapan matanya sudah kusayangi ia dengan sepenuh hatiku tanpa sedikit-sedikit dulu, tanpa perlu proses yang panjang, aku menyayanginya tanpa perlu banyak atau bahkan satu alasan.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel