Analisis Kajian Psikologi Naskah Mamanda Terbaik

A. MODEL PENGKAJIAN PSIKOLOGI

Pertama, model pengkajian psikologi pengarang. Dalam hal ini, persoalan utama yang harus digali dan diekplorasi oleh seorang peneliti adalah aspek-aspek dan kondisi kejiwaan pengarang (dramawan) terutama dalam proses kreatifnya saat menulis naskah drama sebagaimana yang terproyeksikan dalam karya-karya dramanya.

Kedua, model pengkajian psikologi karya sastra. Telaah psikologi karya sastra semata-mata bersifat tekstual, tanpa dihubungkaitkan dengan aspek-aspek kejiwaan pengarang maupun psikologi pembaca. Hal-hal yang harus diekplorasi dalam model pengkajian ini adalah aspek-aspek kejiwaan tokoh-tokoh cerita yang ditampilkan. Biasanya, aspek-aspek kejiwaan itu mengejawantah dalam karakter tokoh masing-masing. Sebab sebagai asumsi yang mendasarinya, para pengarang seringkali menerapkan teori-teori atau psikologi tertentu dalam penciptaan karya-karyanya, dalam teori-teori tersebut terutama dimanfaatkan sebagai dasar penokohan.

Ketiga, model pengkajian psikologis pembaca. Secara umum, model pengkajian ini mempersoalkan dampak psikologis karya sastra terhadap pembacanya. Dengan kata lain, pokok masalah yang selayaknya dipertanyakan disini adalah: sejauh mana pengaruh karya sastra dapat membentuk kondisi kejiwaan pembacanya? Atau, bagaimanakah kondisi kejiwaan pembaca setelah ia membaca karya sastra tertentu? Dalam konteks yang lebih,istilah “pembaca” (readers) dapat mewakili suatu kelompok masyarakat. Sehingga, kondisi kejiwaan pembaca bisa berarti kondisi kejiwaan masyarakat. Namun, demikian istilah “masyarakat” disini juga perlu dibatasi sesuai dengan konteksnya masing-masing, bukan sebagai representasi masyarakat pada umumnya.

B. ANALISIS KAJIAN PSIKOLOGI NASKAH MAMANDA BARA API DARI UTARA ( EPISODE PERANG BANJAR ) KARYA SIRAJUL HUDA HM



1. Model Pengkajian  Psikologi Pengarang

Imajinasi pengarang pada saat membuat cerita / naskah mamanda dengan judul “Bara Api Dari Utara ( sebuah Episode Perang Banjar ), yang dikarang oleh Sirajul Huda HM, yaitu berkaitan dengan masa penjajahan Belanda dan masa kerajaan yang mana kita ketahui Negara kita dijajah Belanda selama 350 tahun. Begitu juga wilayah di kerajaan Kalimantan Selatan yang digambarkan pengarang.

Kesultanan Banjar dan Pemerintah Belanda , pengarang yang bernama Sirajul Huda menggambarkan pemberontakan masyarakat Banjar terhadap pemerintah Belanda itu menunjukkan ideology, yang di anutnya oleh seorang Nasionalis yang mencintai tanah kelahirannya seperti di ceritakan dalam naskah mamanda, yaitu tidak rela bila pemerintah Belanda ikut campur dalam pemerintah  Kesultanan Banjar.

Sirajul Huda pengarang naskah mamanda dengan judul “Bara Api Dari Utara” dengan logika yang sangat nyata dan bagus dalam mendeskripsikan sebuah cerita dimana memang kita ketahui Belanda suka/gemar dengan politik adu domba.

Pengarang mengungkapkan rakyat Banjar tidak tinggal diam saat pemerintah Belanda ikut campur dalam pemerintah kerajaan dan menginginkan agar membela kebenaran dan mempertahankan tanah air tercinta.

Cita-cita serta impiannya pengarang pihak yang benar pasti menang,dan dzalim pasti kalah. Karena kebenaran perlu ditegakkan dan perlu diperjuangkan demi cita-cita mulia yaitu mempertahankan kerajaan banjar dalam kepemimpinannya yang tidak ingin dicampuri oleh pemerintah Belanda, impian pengarang kerajaan  Keraton Banjar dipimpin Sultan yang bijaksana dan rakyatnya  makmur adil dan sejahtera. Hal tersebut dapat diketahui pada kutipan berikut.

SULTAN KUNING MEMASUKI BALAI PERSIDANGAN DI IRINGI  OLEH STAF KERAJAAN. MENTERI PERTAMA DAN KEDUA BERGESER KESAMPING DAN MENYILANGKAN PEDANG DI ATAS



P. Menteri: Anda benar sekali peduka Sultan.

S. Kuning: Setelah aku diangkat sebagai raja di Kumbayau ini, banyak kawan-kawan yang datang untuk mendukung beta empunya diri, bagaimana saudara Mangkubumi.

P. Menteri: Benar sekali paduka Sultan.

S. Kuning: Dengan demikian kita tinggal menunggu waktu untuk menyerang Kompani Walada dan para pengikutnya, bukan begitu saudara Menteri Kedua.

KSMemang benar sekali kakanda Sultan.

S. Kuning: Ayahanda panembahan, apakah sidang kita pada hari ini dapat segera kita mulai.

Ideologi pengarang seorang nasionalis seperti dalam kutipan naskah mamanda berikut:


P. Menteri: Harap ampun paduka Sultan itu benar sekali, sesungguhnya kita menyusun kekuatan kita supaya Walada Kajair dapat kita usir matan tanah banyu kita.

S. Kuning: Ku ucapkan terimakasih kepada seorang perdana Menteri. Bagaimana Pendapat engkau Saudara Panglima perang. Aku ingin mendengar Laporannya.

P. Perang: Harap ampun paduka, selain pasukan kita yang telah ada seluruh rakyat Martapura, Tanah laut, Marabahan dan di sepanjang sungai Barito siap untuk menggempur pasukan walada.

Sirajul Huda pengarang naskah mamanda dengan judul “Bara Api Dari Utara” logika sangat bagus dan nyata dalam mendeskripsikan sebuah cerita memanda seperti dalam kutipan naskah mamanda berikut.



Verspyck: Setelah beta sampai ditempat persidangan ada lebih baik Beta memperkenalkan diri dari jabatan. Apa memang begitu Kapten Cochen.

Cochen: Ada benar sekali tuanku.

Verspyck: G.M. Verspyck tak punya nama terpungkar sebagai Residen Banjarmasin ini. Apa begitu saudara Kapten Blondeu.

Blondeu: Anda benar sekali Tuanku residen.

Cita-cita pengarang dalam naskah mamanda “Bara Api Dari Utara” sebuah Episode perang Banjar, mengungkapkan penjajah segera pergi dan di tanah Banjar bebas dari penjajah seperti pada naskah mamanda berikut.


S. Kuning: Verspyck jangan kau hina Pengeran Antasari di sini kalau ingin Pulang dengan selamat.

Verspyck: Sabar tuan Sultan. Saya hanya menyarankan kepada Sultan untuk supaya kita bisa bekerja sama. Apapun yang Sultan minta tentu kami akan penuhui. Bagaimana ?

S. Kuning: Hanya satu permintaan kami Verspyck.

Verspyck: Hanya satu!? (tertawa). Janang satu, dua atau tiga sekalipun, Kami akan penuhi. Cepat sebutkan apa permintaan Sultan.

S. Kuning: Tinggalkan banua kami atau tuan mati di sini.

2. Model Pengkajian Psikologi Karya Sastra

Hal-hal yang harus di eksplorasi dalam model pengkajian ini adalah aspek-aspek kejiwaan tokoh-tokoh cerita yang ditampilkan. Biasanya, aspek-aspek kejiwaan itu mengejawantah dalam karakter totoh masing-masing. Hal ini dapat terlihat dalam kutipan berikut.

Tamjid: Tapi dengan mengirim pasukan yang terlalu banyak akan membuat situasi menjadi kacau. Ditambah lagi dengan tingkah laku kompeni yang sangat tidak bersahabat menambah kebencian rakyat terhadap kompeni yang sangat tidak bersahabat menambah kebencian rakyat terhadap kompeni yang sangat tidak bersahabat menambah kebencian rakyat terhadap kompeni dan sekaligus  juga kepada saya sebagai Sultan. Sekarang ini rakyat sudah enggan membayar pajak. Para pembakal sudah tidak berdaya lagi untuk memungut karena rakyat menolak kedatangan para kompeni.

Verspyck: Itulah kesalahan tuan Tamjid. Mengapa hal ini tidak disampaikan kepada rakyat anda bahwa kedatangan kompeni ke Martapura semata-mata untuk melindungi rakyat dari kaum pemberontak.

Tamjid: Tapi kenyataan di lapangan bertolak belakang dengan apa yang tuan sampaikan. Rakyat disiksa dan ditekan oleh kompeni, sehingga mereka lebih bersimpati terhadap hidayatullah dan antasari.

Verspyck: Well ... Well ... kalau begitu saya minta tuan tamjid dapat memerintahkan kepada pangeran hidayat agar segera ke Banjarmasin. Demikian pula dengan antasari. Lebih baik kita berunding demi kesejahteraan rakyat Banjar.

Tamjid: Ini adalah mustahil. Tidak mungkin hidayat dan antasari akan datang ke Banjarmasin menemui permintaan tuan.

Verspyck: oh.... bukan begitu tuan tamjid. Yang memanggil mereka berdua adalah anda. Bukan kami. Toh anda punya hubungan keluarga.

Tamjid: walaupun kami punya hubungan keluarga tapi dalam hal ini mempunyai pandangan yang berbeda.

Dari kutipan naskah mamanda diatas jelas terlihat bahwa tokoh Tamjid memiliki aspek psikologi kejiwaan yang terlihat yaitu sifat tidak baik, karena membela Verspyck yang ingin menguasai kota Martapura dan Tamjid dijadikan perantara oleh Verspyck agar membujuk rakyat mau menerima kedatangan Verspyck dan pasukan tentaranya itu terlihat jelas Tamjid diajak kerjasama untuk membohongi rakyat Martapura.

Tokoh karakter sultan kuning mempunyai karakter kecintaan terhadap tanah air kususnya daerah banua. Tokoh Khadam mempunyai karakter kejiwaan yang cerdik, dia berbohong untuk kebaikan masyarakat banua. Hal ini dapat terlihat dalam kutipan naskah mamanda berikut.

S. Kuning: Kaya itulah khadam. Kenapa ikam jadi tahu bubuhan apabila walanda itu handak  manyarang kita.

Khadam: Ulun jadi tahu waktu bubuhanya itu basidang lawan Sultan Tamjid, ulun masuk bapura-pura ada nang mangiyau ulun. Padahal ulun handak mendangar akan pamanderan bubuhannya benarai. Ulun ditakuninya jua dimana handakan pangeran antasari tapi ulun karamputi, tapi inya parcaya. Kawa haja walanda itu sekalinya dibunguli. Limbah itu inya bapander handak menyarang kamari hari ini jar.

S. Kuning: Khadam terimah kasih atas laporan ikam. Pang lima perang bagaimanakah kasiapan pasuklan kita untuk menyambut kedatangan pasukan Walada.

P. Perang: Sesuasi apa nang kita atur semalam pasukan kita siap untuk menyambut kedatangan pasukan Walanda paduka Sultan.

S. Kuning: Kalau begitu mari kita siapkan pasukan untuk mengusir pasukan Walanda dari bumi Banjar ini. Allah akbar.  

3. Model Pengkajian Psikologi Pembaca

Secara umum, model pengkajian ini mempersoalkan dampak psikologis karya sastra terhadap pembacanya. Dengan kata lain, pokok masalah yang selayaknya dipertanyakan disini adalah sejauh mana pengaruh karya sastra dapat membentuk kondisi kejiwaan pembacanya? Atau, bagaimanakah kondisi kejiwaan pembaca setelah ia membaca karya sastra tertentu? Hal ini dapat terlihat dalam kutipan naskah mamanda seperti berikut ini:

S. Kuning: Verspyck jangan kau hina Pengeran Antasari di sini kalau ingin Pulang dengan selamat.

Verspyck: Sabar tuan Sultan. Saya hanya menyarankan kepada Sultan untuk supaya kita bisa bekerja sama. Apapun yang Sultan minta tentu kami akan penuhui. Bagaimana?

S. Kuning: Hanya satu permintaan kami Verspyck.

Verspyck: Hanya satu!? (tertawa). Janang satu, dua atau tiga sekalipun, Kami akan penuhi. Cepat sebutkan apa permintaan Sultan.

S. Kuning: Tinggalkan banua kami atau tuan mati di sini.

Dari kutipan naskah mamanda diatas terlihat jelas bahwa kutipan tersebut dapat mempengaruhi  aspek kejiwaan pembaca untuk lebih mencintai tanah air khususnya Kalimantan Selatan kota Martapura agar generasi muda mengetahui sejarah perjuangan terdahulu dan hal itu dapat merubah sikap menghargai perjuangan  para pahlawan.

C. Simpulan

Naskah mamanda Bara Api dari Utara Karya Sirajul Huda HM dikaji dengan kajian psikologi yaitu terdapat imajinasi pengarang, ideology yang di anut pengarang, logika pengarang dan cita-cita pengarang yang ingin bebas dari penjajahan Belanda serta bisa membangun kerajaan Banjar agar maju, sejahtera, aman dan damai. Pengarang mengungkapkan rakyat Banjar tidak tinggal diam saat pemerintah Belanda ikut campur dalam pemerintah kerajaan dan menginginkan agar membela kebenaran dan mempertahankan tanah air tercinta.

Cita-cita serta impiannya pengarang pihak yang benar pasti menang, dan yang zalim pasti kalah, karena kebenaran perlu ditegakkan dan perlu diperjuangkan demi cita-cita mulia yaitu mempertahankan kerajaan Banjar dalam kepemimpinan nya yang tidak ingin dicampuri oleh pemerintah Belanda. Impian pengarang kerajaan Kraton Banjar dipimpin sultan yang bijaksana dan rakyatnya makmur, adil dan sejahtera.

DAFTAR PUSTAKA


Huda, Sirajul. 2012. Naskah Pertunjukan Mamanda Teater Tradisi Banjar. Banjarbaru: Scripta Cendekia.
Suryanata, Jamal T. 2016. Pengkajian Drama. Yogyakarta: Akar Indonesia.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel